Artikel » BERITA

TARHIB RAMADHAN OLEH DR. ABDUL GANI ISA. MA

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa (di dalamnya). Dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu neraka, setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Orang yang diharamkan kebaikannya, maka ia telah diharamkan dari semua kebaikan.” (HR. Ahmad)

INSYA Allah, semua kita merindukan tamu agung tahunan yang dinanti-nanti selama berbulan-bulan. Ya, itulah bulan Ramadhan yang penuh berkah yang di dalamnya terdapat malam penganugerahan seribu bulan. Siapa saja yang akan meraih malam “anugerah” itu. Jangan-jangan tahun ini, tercantum nama kita di dalamnya. Karena itu, wajar jika banyak orang selalu merindukan dan mendambakan bulan ini, sehingga butuh persiapan sedini mungkin untuk menyambut kehadirannya.

Ramadhan “proyek” Allah Swt, tanpa tender, siapa saja bisa meraihnya tanpa kecuali. Ramadhan sebagai lembaga pendidikan yang sangat baik, yang juga disebut dengan madrasah mutamayyizah, yang dibuka Allah Swt setiap tahun. Siapa yang mendaftar dan siapa pula dengan tulus ikhlas mengikuti “perkualiahan” dengan baik selama satu bulan, ia akan lulus dengan predikat “sukses besar”. Karena tidak ada keuntungan yang lebih besar ketimbang meraih “keampunan Allah” dan terbebas dari siksaan api neraka.

Kehadiran Ramadhan yang biasa disemarakkan dalam acara tarhib Ramadhan, seringkali dimanfaatkan oleh banyak orang sebagai waktu untuk berbenah diri, membersihkan hati dan mempererat kembali tali silahturahim dengan sanak famili. Kebersihan dan kesiapan hati menyambut Ramadhan akan terasa lebih indah jika dicerminkan dari hati yang suci. Karena itu, seringkali kita melakukan persiapan fisik dan mental untuk menyambut bulan puasa ini.

Butuh persiapan
Ramadhan, menahan diri dari makan dan minum dan seluruh aktifitas yang dapat membatalkan ibadah puasanya, sejak dari sebelum terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Untuk itu dibutuhkan persiapan untuk kesempurnaan ibadahnya: Pertama, persiapan ilmu. Agar aktivitas di bulan Ramadhan bisa optimal kita jalankan, kita harus memiliki wawasan dan pemahaman yang benar dan cukup tentang Ramadhan dan hal-hal yang terkait dengannya. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis-majelis ilmu yang membahas tentang Ramadhan.

Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntunan Rasulullah saw, baik sebelum, selama maupun pasca-Ramadhan. Ilmu harus kita dahulukan sebelum beramal. Karena itu, mulai sekarang harus kita programkan untuk membaca dan menghadiri majelis-majelis ilmu. Jangan sampai pemahaman hal-hal yang berhubungan dengan Ramadhan justru baru kita dapatkan ketika di akhir Ramadhan. Walaupun bukan hal yang sia-sia, namun hal itu dapat mengurangi keuntungan kita di bulan penuh berkah ini.

Kedua, persiapan semangat. Semangat Ramadhan harus kita miliki jauh-jauh hari sebelum ia tiba. Para ulama mutaqaddimin sering membaca doa ini, “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syakban, dan pertemukan kami dengan Ramadhan.” Selain doa, semangat dapat kita tingkatkan dengan memperbanyak ibadah-ibadah sunnah. Selain itu, di bulan dan hari-hari menjelang Ramadhan jangan sampai kita melakukan maksiat dan bid’ah berbentuk apa pun, tapi bukan berarti di bulan lainnya dibolehkan. Ini dimaksudkan agar jauh hari sebelum Ramadhan tiba kadar keimanan kita sudah meningkat.

Ketiga, persiapan fisik. Aktivitas Ramadhan memerlukan fisik yang prima dari bulan lainnya. Sebab, jika fisik kita lemah, kemulian yang dilimpahkan Allah pada bulan tersebut tidak dapat kita raih secara maksimal. Kita harus membiasakan hidup sehat dengan mengatur pola makan, istirahat dan beraktivitas secara seimbang, serta berolahraga yang cukup agar tubuh kita prima saat Ramadhan tiba. Kita juga harus melatih fisik untuk melakukan puasa sunnah, banyak membaca Alquran, biasa bangun dan shalat malam, dan aktivitas lainnya. Agar kita memiliki ketahanan yang baik saat secara maksimal melakukannya pada Ramadhan nanti.

Keempat, persiapan harta. Sebaiknya, sebelum Ramadhan tiba kita sudah memiliki perbekalan harta yang cukup. Sehingga saat Ramadhan, waktu kita bisa lebih difokuskan untuk beribadah. Lebih dari itu, persiapan harta adalah untuk melipatgandakan sedekah atau infak kita di bulan Ramadhan. Apalagi pahalanya dilipatgandakan oleh Allah, dan Rasulullah telah mencontohkan kedermawanan yang sangat tinggi di bulan ini. Harus diingat pula bahwa, persiapan harta bukan untuk membeli keperluan buka puasa atau hidangan lebaran secara berlebihan sebagaimana tradisi masyarakat kita selama ini, yang bahkan cenderung ke arah israf dan tabdzir.

 

Kelima, persiapan target peningkatan diri. Juga penting untuk kita persiapkan adalah target-target yang ingin kita capai di bulan Ramadhan nanti. Agar terjadi peningkatan dalam diri kita sesuai dengan yang kita inginkan. Misalnya, target mengkhatamkan Alquran atau menghafalnya, penguasaan bahasa Arab atau melancarkannya, menamatkan kitab-kitab tafsir, hadis dan lainnya, jumlah infaq, membantu orang yang kesusahan, dan yang semisalnya. Baik dari sisi kualitas maupun kwantitasnya.

Target capaian
Pembuatan target capaian Ramadhan akan memacu kita untuk beramal lebih baik lagi dari sebelumnya. Selain untuk pribadi, dalam keluarga atau organisasi, kita pun sebaiknya juga merancang target-target bersama yang akan dicapai di bulan Ramadhan ini. Di samping itu, kita juga butuh konstruksi iman dan ikhlas, sehingga menjadikan ibadah Ramadhan sukses dan bermakna, sebagaimana sabda Nabi saw, “Barangsiapa melakukan Ramadhan dengan iman dan ikhlas niscaya Allah akan mengampuni dosanya.” (HR. Bukhari Muslim).

Demikianlah, wujud kegembiraan yang hakiki dalam menyambut hadirnya Ramadhan. Ketika yang disambut dan dinanti-nanti telah tiba, tentu tidak dilewatkan begitu saja, tapi harus diisi dengan amal ibadah, siang harinya dengan imsak dan malamnya dengan shalat sunat tarawih.

Begitu istimewanya bulan Ramadhan, maka 10 malam terakhir itu pun oleh Nabi sekaligus dijadikan sebagai malam perpisahan, farewell party dengan Ramadhan. Apalagi di malam-malam farewell party itu ada satu malam penganugerahan seribu bulan. Itulah malam teristimewa yang tidak di dapati di malam-malam yang lain, yaitu lailatul qadar.

Pasti seru, beramai-ramai setiap malam bersama keluarga di bulan Ramadhan yang kita sayangi, kita nanti-natikan sampai kedatangannya saja dirayakan secara besar-besaran. Sebenarnya, kita semua sudah mengetahui dan bahkan menyadari betul akan hal tersebut. Namun, kita seringkali lupa bahwa itulah esensi tarhib Ramadhan, penyambutan bulan Ramadhan yang hakiki. Bukan, sekadar mengungkapkan kegembiraan saat menjelang Ramadhan atau di awalnya saja, melainkan setiap hari dan setiap saat hingga Ramadhan itu pulang dan akan datang kembali.

Harapan kita, mudah-mudahan Ramadhan dapat mengantarkan kita kepada ketakwaan sejati dan kelak Allah Swt masih mempertemukan kita dengan Ramadhan selanjutnya yang lebih baik lagi. “Ya Allah, selamatkan kami hingga Ramadhan, selamatkan pula Ramadhan untuk kami, dan terimalah ia dari kami.” (HR. Thabrani). Wallahu a’lam bish shawab.

* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH, M.Ag., staf pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Email: ganiisaabdul@yahoo.com

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul ‘Tarhib’ Ramadhan, http://aceh.tribunnews.com/2018/05/11/tarhib-ramadhan?page=2.

Editor: bakri

Skip to toolbar