Artikel » BERITA » Gallery

Mensyukuri Karunia Ilahi Oleh Dr. Agustin Hanapi. Lc. MA

DI antara sifat manusia yang diungkapkan oleh Alquran adalah suka berkeluh-kesah, tidak pernah merasa berpuas diri dan berkecukupan. Mengeluh dalam banyak hal, misalnya ketika seorang siswa selesai menamatkan pendidikan di bangku sekolah, dia sedikit galau dan bingung serta harap-harap cemas; apakah nantinya diterima di perguruan tinggi terbaik atau tidak? Namun, begitu lulus masuk perguruan tinggi dan resmi menyandang status mahasiswa, sifat mengeluh dan rasa kegundahan itu belum juga hilang dari benaknya lantaran merasa belum sampai pada titik aman, yaitu menyandang gelar sarjana dan memiliki ijazah, dan seterusnya.

Sebenarnya kalau kita sadar akan anugerah dan karunia Allah Swt yang begitu luas, yang semuanya diberikan tanpa batas, tak sepatutnya bagi kita berkeluh kesah, tetapi sebaliknya harus selalu bersyukur. Allah Swt bwrfirman, “Jika kamu ingin menghitung nikmat Allah, sungguh engkau tidak akan mampu menghitungnya.” Kemudian pada ayat lain Allah Swt berfirman, “Katakanlah (Muhammad), seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan sebanyak itu (pula).” (QS. al-Kahfi: 109).

Oleh karena itu, manusia harus bersyukur kepada Allah Swt atas segala pemberian-Nya. Allah ciptakan air yang merupakan sumber kehidupan yang dapat dimanfaatkan oleh umat manusia. Allah ciptakan air laut yang luas tak bertepian, sehingga manusia dapat berlayar mengarungi dunia berdagang memenuhi kebutuhannya, kemudian dapat menggali potensi yang terkandung di dalamnya, seperti mutiara, minyak, gas dan lainnya untuk memenuhi kehidupan umat manusia. Manusia dapat menikmati beraneka ragam jenis ikan yang tak pernah habis sehingga keberlangsungan hidup manusia tetap terpelihara.

Kemudian gunung-gunung ditancapkan ke bumi, sehingga bumi menjadi stabil dan seimbang, yang dipenuhi oleh beraneka ragam pepohonan sehingga menjadi tempat berlindung bagi binatang buas yang membuat manusia terlindungi dari ancaman yang mengerikan itu, hingga merasa aman dan nyaman. Pepohonan tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan dan wewangian untuk kebutuhan umat manusia, kayu-kayunya juga dapat diolah dan digunakan menjadi tempat tinggal, juga sebagai sumber rizki manusia karena di atasnya dihuni oleh lebah yang menghasilkan madu untuk kebutuhan umat manusia.

Begitu juga jika kita berkaca dan merenungi akan diri kita, Allah ciptakan kedua mata, sehingga dapat melihat dan memandang luasnya dunia. Namun Allah juga memberi keterbatasan pada mata dalam hal penglihatannya demi kemaslahatan manusia itu sendiri, sehingga terhindar dari rasa takut dan was-was. Allah ciptakan lidah tak bertulang sehingga kita dapat mengecap segala rasa, mampu berbicara dan menguasai berbagai bahasa, sehingga dapat berkeliling dunia.

Kemudian tangan, yang dapat melakukan berbagai aktivitas, lalu menciptakan aneka karya dan inovasi, sehingga dikenal seluruh dunia. Kedua kaki yang begitu indah dan seimbang, sehingga bisa menorehkan prestasi dan menghasilkan materi yang luar biasa seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo dan sebagainya. Bahkan, Dia ciptakan oksigen yang dapat dihirup oleh umat manusia setiap saat tanpa dipungut biaya satu rupiah pun. Maka wajar Allah murka dan menegur hamba-Nya yang ingkar dan enggan bersyukur, “Nikmat Tuhan-Mu yang mana lagi yang engkau dustakan?”

Ungkapan rasa syukur
Tidak ada yang kurang suatu apa pun, maka yang perlu kita perhatikan adalah penuh rasa syukur kepada Allah, yaitu senantiasa mengingat kasih sayang Allah lalu berterimakasih, menyatakan kelegaaan, keridhaan, kesenangan, dan sebagainya atas segala apa yang diberikan oleh-Nya. Kata “syukur” mengisyaratkan “siapa yang merasa puas dengan yang sedikit sekalipun”. Hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat”, yaitu menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah.

Syukur dalam hal ini mencakup tiga sisi: Pertama, syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin atas anugerah. Dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan ilahi. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapapun kecilnya nikmat tersebut.

Syukur ini juga mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan, dan kasih sayang Ilahi, sehingga terlontar dari lidahnya pujian kepada-Nya. Seseorang yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa malapetaka pun, boleh jadi dapat memuji Tuhan, bukan atas malapetaka itu, tetapi karena terbayang olehnya bahwa yang dialaminya pasti lebih kecil dari kemungkinan lain yang dapat terjadi.

Kedua, syukur dengan lidah, mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya. Apabila seseorang sering mengucapkan alhamdulillah, maka dari waktu ke waktu, ia akan selalu merasa berada dalam curahan rahmat dan kasih sayang Allah. Dia akan merasa bahwa Allah Swt tidak membiarkannya sendiri.

Jika kesadaran ini telah berbekas dalam jiwa manusia, dalam kondisi tersulit dalam kehidupannya pun akan mudah mengucapkan kalimat-kalimat syukur seperti “segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata”. Kalimat semacam ini dapat terlontar, karena dia menyadari bahwa dibalik sebuah cobaan, limpahan karunia yang Allah beri masih lebih banyak lagi. Sehingga cobaan dan malapetaka itu tidak lagi berarti dibandingkan dengan karunia yang Allah beri selama ini.

Dan, ketiga, syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya, sebagaimana firman-Nya, “Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untuk kamu) agar kamu dapat memakan darinya daging (ikan) yang segar, dan (agar) kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari karunia-Nya (selain yang telah disebut) semoga kamu bersyukur.” (QS. an-Nahl: 14).

Dalam ayat lain, Allah Swt juga berfirman, “Allah Swt telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduknya) kufur (tidak bersyukur atau tidak bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka mengenakan pakaian, kelaparan, dan ketakutan disebabkan oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan.” (QS. an-Nahl: 112).

Manfaat syukur kembali kepada orang yang bersyukur, sedangkan Allah Swt sama sekali tidak memperoleh bahkan tidak membutuhkan sedikit pun syukur dari makhluk-Nya. Allah akan menganugerahkan tambahan nikmat berlipat-ganda kepada makhluk yang bersyukur. Maka apapun yang Allah berikan harus diterima dengan lapang dada, sembari meningkatkan ketakwaan kepada Allah dan menjauhi larangannya, jangan mudah mengeluh dan berputus asa, tetapi selalu ber-khusnudz-dzan kepada Allah bahwa ketetapan Allah, itulah yang terbaik. Wallahu a‘lam.

* Dr. H. Agustin Hanafi, MA., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh. Email: agustinhanafi77@yahoo.com

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Mensyukuri Karunia Ilahi, http://aceh.tribunnews.com/2018/07/20/mensyukuri-karunia-ilahi?page=2.

Editor: bakri

 

 

Skip to toolbar