Artikel » BERITA

Ini Momentum Muhasabah Oleh Agustin Hanafi

WAKTU berjalan begitu cepat, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, hingga tanpa terasa saat ini kita telah berada di tahun baru 2018 Masehi. Rasanya baru saja kemarin kita memasuki tahun baru, namun kini sudah memasuki tahun baru lagi, alangkah cepatnya pertemuan.

Begitulah siklus kehidupan ini, seakan-akan baru saja kemarin kita menginjak remaja, bahkan mungkin sebagian besar di antara kita masih memiliki ingatan segar tentang bagaimana indahnya bermain di masa kecil. Ketika muda terlihat begitu gagah perkasa, cantik jelita, dan memiliki rambut hitam mempesona. Namun kini telah menjadi seorang kakek dan nenek tua yang kulitnya telah keriput, penglihatan yang kabur, rambut telah memutih, dan tubuh membungkuk hingga terkadang untuk berjalan pun harus dibantu dengan tongkat atau kursi roda.

Waktu tidak dapat diputar ke belakang, hingga banyak yang menyesali diri, mengapa sebelumnya tidak begini dan begitu. Agar manusia tidak menghabiskan umur secara sia-sia, Allah Swt telah memperingatkan secara tegas agar manusia tidak lalai, dan selalu berjalan pada koridor yang tepat dengan firman-Nya, “Demi masa (demi waktu ashar) sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3).

Disebut “waktu ashar” dalam ayat tersebut karena ketika inilah umat manusia baru menyadari betapa cepatnya perjalanan waktu. Mungkin sebelumnya, sejak pagi hari lalai tanpa banyak berbuat dan mengisi hari-harinya dengan pekerjaan yang bermanfaat, sehingga tidak terasa kalau hari telah senja. Sedangkan persiapan bekal belum apa-apa. Begitulah jika ditamsilkan kepada kepribadian kita.

Tidak sedikit orang tua yang merasa prihatin terhadap sikap anaknya yang tidak mau berjuang dan bekerja keras –memperingatkan bahwa penyesalan itu selalu datang di akhir– dengan harapan agar sang anak tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama seperti pengalaman pahit orang tuanya. Yaitu, tidak memiliki prospek masa depan yang cerah, karena di masa muda tidak bersungguh-sungguh dalam belajar hingga terkatung-katung di masa tua. Saat tubuh masih sehat dan bugar tidak termotivasi untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan saat ini, telah berada di ujung kehidupan yang serba sakit-sakitan dan kepayahan.

Yang perlu disadari oleh kita semua bahwa kehidupan ini hanya bersifat sementara, tak ubahnya seperti transit, menunggu beberapa saat lalu berlabuh kembali, dan akhirat adalah tempat abadi. Bagi yang menyadarinya, mereka akan mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya.

Namun sebaliknya, bagi yang kurang menyadari akan bersikap cuek dan tak acuh, selalu merasa muda, seolah-olah mereka hidup di pentas dunia ini untuk selamanya. Dirinya penuh dengan lumuran dosa, tidak mau melaksanakan salat, enggan berzakat dan bersedekah, bahkan memiliki dan memupuk sifat congkak dan angkuh dalam dirinya, sehingga ketika maut datang menjemput, mereka kaget bukan kepalang dan meminta penangguhan waktu walaupun sesaat, agar bisa melaksanakan perintah Allah. Namun tidak akan ada penangguhan sama sekali.

Momentum muhasabah
Pergantian tahun adalah sesuatu yang biasa, tak ubahnya seperti pergantian siang dengan malam. Dengan bergantinya tahun berarti jatah hidup kita di dunia ini semakin berkurang. Maka secara akal dan jiwa yang sehat jika umur dikurangi tentu akan bersedih, serta lebih berhati-hati dalam melangkah. Untuk itu, sangat aneh jika seseorang yang tahu umurnya berkurang, malah merasa girang dan antusias dalam merayakan pergantian tahun. Mereka berfoya-foya, bersikap mubazir, berpesta minuman keras, jingkrak-jingkrak, joget, meniup terompet sambil membakar kembang api. Na’uzubillah.

Sejatinya, dengan berjalannya waktu dan bergantinya tahun, dijadikan sebagai momentum muhasabah dan refleksi diri, yaitu merenungi segala hal yang pernah kita lakukan selama ini; apakah tinta emas yang kita goreskan di atas kanvas kehidupan atau noda-noda hitam yang lebih banyak mewarnai kanvas tersebut?

Sangat tepat rasanya jika pergantian tahun ini, kita semua introspeksi diri, dengan harapan ke depan dapat menjadi pribadi yang lebih baik dari pada sebelum-sebelumnya, sebagaimana sabda Nabi saw, “Barang siapa harinya lebih baik dari kemarin, berarti dialah orang yang beruntung. Namun, jika sama dengan kemarin berarti termasuk kepada golongan orang yang merugi. Dan, jika hari ini lebih buruk lagi dari kemarin, berarti dialah orang yang terkutuk.”

Introspeksi mengenai apa saja yang mengarah kepada hal positif, terutama melakukan renungan tentang umur, harta, kesempatan, dan waktu yang ada. Untuk apa umur kita selama ini? Dari mana kita memperoleh harta dan ke mana harta tersebut kita keluarkan? Bagaimana kita memanfaatkan kesempatan yang ada? Dan dengan apa kita mengisi waktu hidup ini?

Nabi mengajarkan kepada kita untuk muhasabah lewat sabdanya, “Orang yang beruntung adalah orang yang menghisab dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematian.” Begitu juga dengan ungkapan Umar bin Khattab yang sangat populer, “Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu. (Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab)”. Beliau menganjurkan kita semua agar senantiasa melakukan evaluasi diri (muhasabah), sebelum kelak di hari akhir (kiamat) Tuhan menghisab segala amal perbuatan kita.

Jika direnungi, melakukan muhasabah memang seharusnya dilakukan sesering mungkin, untuk mengetahui seberapa banyak amal ibadah yang telah kita lakukan, dan seberapa banyak hal-hal negatif atau kemaksiatan yang telah kita kerjakan, baik secara sengaja mau¬pun tidak. Lantas, bila ternyata kemaksiatan yang kita lakukan jauh lebih banyak dari pada amal ibadah kita, sudah seharusnya kita menjadi pribadi yang semakin mawas diri, dan berusaha memperbaikinya di masa yang akan datang.

Bertaubat dan menyesali perbuatan maksiat yang pernah dikerjakan seraya berjanji tak akan mengulanginya lagi, adalah hal yang seharusnya kita prioritaskan. Bila ternyata amal ibadah kita lebih banyak dari pada kemaksiatan yang pernah kita kerjakan, jangan sampai membuat kita merasa berbangga hati alias sombong. Sebab, sifat sombong akan menjerumuskan kita pada lembah kenistaan.

Muhasabah baiknya kita mulai dari kalangan internal keluarga, misalnya, apakah seorang suami telah menjadi teladan bagi isterinya? Begitu juga sebaliknya. Kemudian, apakah anak kita tekun menunaikan salat? Mampukah membaca Alquran secara baik dan benar, dan bersedia mendalami isi kandungannya? Apakah bacaan yang ia geluti telah sesuai untuk prospek masa depannya? Dan, yang lebih penting lagi adanya kekhawatiran besar terhadap mereka menjadi generasi yang lemah. Sekiranya kita meninggal dunia kelak, akankah dia berada pada jalan yang benar? Terbebas dari bahaya narkoba, pergaulan bebas. Tidak bertengkar sesama saudaranya akibat salah paham terhadap pembagian harta warisan.

Kemudian bagaimana dengan keperibadian kita selama ini, apakah bekal yang kita persiapkan untuk akhirat telah memadai sebagaimana firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Untuk itu, patut bertanya dalam hati apakah pelaksanaan ibadah kita selama ini niatnya murni karena Allah, atau hanya ingin mendapatkan sanjungan dan pujian dari calon mertua? Apakah shalat yang kita kerjakan benar-benar khusyuk atau hanya sekadar untuk menggugurkan kewajiban? Atau, sumbangan yang kita berikan telah benar-benar ikhlas, atau hanya sekadar untuk memuluskan “kursi panas” yang kita incar?

Begitu juga ketika menyandang status pegawai di sebuah kantor, apakah kehadiran kita hanya sekadar memenuhi absen yang berimbas pada kepentingan administrasi, tanpa pernah berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dan bekerja keras untuk kemaslahatan umum, di mana perilaku tersebut merupakan amal jariah di kemudian hari? Begitu juga sebagai seorang mahasiswa yang datang jauh dari kampung, apakah telah melaksanakan amanah orang tua secara baik? Tidak meninggalkan shalat lima waktu dan tekun belajar? Atau, malah sering menghabiskan waktu secara sia-sia dengan asyik bergawai ria?

Mari, di tahun baru 2018 ini, kita berusaha meningkatkan kualitas amal ibadah kita agar menjadi semakin bermakna. Mungkin, selama ini ketika kita mendirikan shalat, kita melakukannya dengan tergesa-gesa dan jauh dari kekhusyukan, atau masih melakukan pekerjaan yang hanya berorientasi kepada materi, mari kita perbaiki diri dan luruskan niat. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

* Dr. H. Agustin Hanafi, MA., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, dan anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh. Email: agustinhanafi77@yahoo.com

http://aceh.tribunnews.com/2018/01/05/ini-momentum-muhasabah

Skip to toolbar