Artikel

HASANUDDIN YUSUP ADAN: KEWAJIBAN PUASA RAMADHAN

 

ALUMNI FSH|AGAMA Islam memiliki lima fondasi esensil yang disebut dengan Rukun Islam, yaitu: Pertama, syahadatain (mengucap dua kalimah syahadah) dengan lafadhnya, asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu an na Muhammadar Rasulullah (aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah); Kedua, shalat lima waktu sehari semalam; Ketiga, berpuasa di bulan Ramadhan; Keempat, membayar zakat bagi yang sampai haul dan nisab hartanya, dan; Kelima, naik haji ke Baitullah. Ini semua menjadi beban, tanggung jawab dan kewajiban bagi setiap muslim untuk menjalankannya.

Di antara lima rukun Islam tersebut terdapat kewajiban puasa pada bulan Ramadhan selama sebulan penuh. Terserah kepada jumlah hari dalam bulan Ramadhan tersebut, kalau jumlahnya 30 hari maka wajib bagi seorang muslim untuk berpuasa selama 30 hari. Demikian juga kalau hari dalam bulan Ramadhan itu 29 hari, maka wajib bagi setiap muslim berpuasa 29 hari saja. Begitulah makna berpuasa di bulan Ramadhan yang tertera dalam rukun Islam, ia berlaku untuk umum baik orang besar maupun orang kecil, baik orang kaya maupun orang miskin, baik lelaki maupun wanita.

Jadi puasa Ramadhan merupakan sebuah kewajiban yang tidak ada alasan untuk tidak dilaksanakan oleh seorang muslim yang menghirup udara Allah di bumi ini. Sebagaimana juga shalat, membayar zakat, dan naik haji sama-sama kewajiban yang wajib dilaksanakan oleh setiap ummat Islam. Apalagi Ramadhan yang hanya setahun sekali saja datang maka tidaklah memberatkan ummat Islam untuk melaksanakannya karena ianya hanya untuk satu bulan saja.

Makna kewajiban
Dalam kajian ushul fiqh berkenaan dengan hukum ada al-ahkam al-khamsah (hukum yang lima) yang mengatur tatacara kehidupan ummat manusia pada umumnya dan ummat Islam khususnya. Kelimanya adalah wajib, haram, sunat, mubah, dan makruh. Kalau makruh itu apabila dikerjakan mendapat benci Allah dan apabila ditinggalkan berpahala. Contohnya adalah thalaq, makan buah yang berbau mulut dan kentutnya, dan lainnya. Mubah adalah perbuatan yang dibolehkan untuk dikerjakan karena sudah ada panduannya seperti makan, minum, berbicara dan seumpamanya.

Sunat merupakan suatu perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa, seperti puasa Senin-Kamis, shalat Tahajjud, shalat Dhuha, membaca qunud di ujung shalat Subuh, dan lainnya. Sementara haram merupakan sesuatu perbuatan yang apabila dikerjakan akan berdosa dan apabila ditinggalkan akan berpahala seperti zina, minum khamar, berjudi, mencuri, dan seumpamanya. Sedangkan wajib adalah sesuatu yang diperintahkan Allah yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan mendapat dosa seperti puasa, shalat, membayar zakat, naik haji ke Baitullah.

Karena kewajiban atau sesuatu perbuatan yang wajib hukumnya menjadi tuntutan yang wajib dikerjakan oleh seseorang manusia khususnya ummat Islam maka dapat dimaknakan bahwa kewajiban itu merupakan suatu kegiatan yang sifatnya harga mati. Artinya tidak boleh tidak mesti dan harus dikerjakan oleh seorang muslim karena itu kewajiban baginya. Kalaupun ada ummat Islam yang membandel tidak mau melaksanakannya maka ia akan berhadapan denngan dosa, azab, ancaman neraka, dan benci serta murka Allah kepadanya.

Konkritnya makna kewajiban itu adalah semua perintah Allah yang mau tidak mau harus mau dikerjakan, siap tidak siap harus siap dilaksanakan, senang tidak senang harus senang dilakukan, enak tidak enak harus enak melakukannya, mampu tidak mapu harus mampu melaksanakannya walau dengan bantuan dan bimbingan orang lain, itulah dia kegiatan yang namanya kewajiban.

Puasa Ramadhan
Ada dua ayat Alquran yang langsung memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan puasa Ramadhan setahun sebulan adalah surah al-Baqarah ayat 183 dan 185. Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183). Kata wajib di sini merupakan kandungan penjelasan makna kewajiban yang telah kita bahas di belakang tadi, yaitu sesuatu yang mesti dan harus dikerjakan, kalau tidak dikerjakan akan berdosa, mendapatkan azab Allah baik di dunia maupun di akhirat dan akan mendapatkan neraka di hari akhirat kelak.

Sementara kandungan terjemahan ayat 185 surah al-Baqarah, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. al-Baqarah: 185)

Kalimat “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” mengandung makna perintah wajib puasa kepada setiap muslim yang menetap di kampung halamannya dan tidak berada dalam suasana musafir.

Perkataan “hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” adalah menunjukkan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk berpuasa pada bulan Ramadhan sebulan penuh dan tidak dibenarkan untuk tidak berpuasa dengan alasan apapun jua kecuali alasan yang tersebut dalam Alqu’an seperti; orang musafir yang memberatkan dia untuk berpuasa namun wajib baginya untuk mengqadhanya pada bulain lain selepas berlalunya bulan Ramadhan.

Orang sakit dalam kondisi tidak sanggub berpuasa seperti perempuan hamil tua yang lemah lunglai, perempuan yang menyusui anak bayinya yang memberatkan kondisi fisiknya, orang tiba-tiba sakit pada siang hari bulan Ramadhan yang membahayakan keselamatan nyawanya, dan orang sakit tua atau sakit permanen yang tidak mampu beraktivitas apa pun lagi.

Bagi orang-orang tersebut Islam sudah memberikan solusi untuk dijalankan oleh setiap muslim. Bagi yang dalam perantauan, wanita menyusui, wanita hamil berat, orang sakit temporer yang semuanya akan berbahaya kepada kesehatan dan keselamatan jiwanya maka Allah berikan rukhshah (keringanan) kepada mereka untuk berbuka pada waktu tersebut dengan kompensasi wajib bagi mereka mengqadha puasa tersebut sejumlah hari yang ditinggalkan dalam bulan Ramadhan pada bulan lain di luar Ramadhan.

Sementara bagi orang sakit permanen yang tidak mungkin berpuasa sama sekali maka Allah izinkan mereka untuk membayar fidyah kepada fakir miskin sesuai dengan jumlah puasa yang ditinggalkan, sejumlah itu pula fakir miskin diberi makan tiga kali sehari. Dalilnya, “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. al-Baqarah: 185).

Demikianlah ketentuan Allah bagi hambanya yang mengaku muslim dan muttaqin serta mukminin, wajib bagi mereka untuk berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Tidak boleh berpuasa setengah bulan saja, sehari saja, seminggu saja atau beberapa hari saja manakala ada orang yang disegani bersamanya seperti kepalanya, taukenya, orang tuanya, menantu, mertua, anak, cucu dan lainnya.

Tidak ada peluang bagi seorang muslim untuk meninggalkan puasa melainkan Allah akan menyediakan azab dan ancamannya di hari akhirat kelak. Oleh karena itu kepada semua muslim wa muslimah di mana saja kita berada mari sama-sama kita mematuhi perintah Allah yang sudah mewajibkan kita berpuasa pada bulan Ramadhan yang menjadi bulan paling utama dan paling mulya serta bulan yang dilebihkan Allah berbanding dengan bulan-bulan yang lain.

Di antara kelebihan bulan Ramadhan adalah terdapat lailatul qadar di dalamnya yang nilainya serupa dengan nilai seribu bulan lain. Allah membuka pintu syurga dan menutup pintu neraka serta merantai semua syaithan yang ada. Di awal bulan Ramadhanpula Allah turunkan shuhuf Nabi Ibrahim ra, Taurat diturunkan pada enam Ramadhan, Injil diturunkan pada 13 Ramadhan, dan Alquran diturunkan pada 24 Ramadhan (HR. Ahmad).

Dalam sumber-sumber lain disebutkan Alquran turun pada 17 dan 21 Ramadhan. Mayoritas muslim mengambil 17 Ramadhan sebagai waktu turunnya Quran pertama. Wallahu a’lam. Ramadhan juga bulan penuh berkah, bulan penuh maghfirah (ampunan), dan bulan pembebasan hamba dari api neraka, tinggal sekarang hamba ini mau syurga atau mau neraka, kalau jawabannya mau surga maka berpuasalah sebulan penuh di bulan Ramadhan ini. Insya Allah.

* Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA., Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, Dosen Siyasah pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: diadanna@yahoo.com

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Kewajiban Puasa Ramadhan, http://aceh.tribunnews.com/2018/05/16/kewajiban-puasa-ramadhan?page=2.

Editor: bakri

 

 

Skip to toolbar