Artikel

DR. MIZAJ ISKANDAR: ISLAM DI AS, DIALOGIS BUKAN DEMONSTRATIF

ALUMNI FSH|DUA bulan lalu, tepatnya pada 10 Maret 2018, saya dan beberapa teman yang lain dari Indonesia tiba di Amerika Serikat (AS). Kedatangan kami kali ini ke negeri Paman Sam atas undangan The Department State of America (Kementerian Luar Negeri AS) untuk mengikuti serangkaian program IVLP (International Visitor Leadership Program), yang mengambil tema Faith Based Educatioan (Pendidikan Berbasis Keagamaan). Dalam rangkaian kegiatan IVLP ini, kami dibawa ke beberapa institusi pendidikan yang berbasis keagamaan yang tersebar di lima wilayah (state) di AS, mulai dari Washington DC; Baltimore, Maryland; Atlanta, Georgia; Detroit, Michigan; sampai ke Seattle, Washington.

Mengingat tema IVLP kami Faith Based Education, maka mengunjungi institusi pendidikan yang berbasis keagamaan merupakan suatu keniscayaan. Dan sudah menjadi suatu kelaziman di AS, hampir semua sekolah yang berbasis kepada faith pasti memiliki rumah ibadah di dalamnya. Sebuah alur yang tak terpungkiri, dalam program ini kami juga mengunjungi rumah ibadah dengan masing-masing tokoh agamanya. Ada masjid (mosque) dengan imam sebagai pimpinannya; church (gereja) yang dipimpin oleh seorang pastor, atau synagogue yang dipimpin oleh seorang rabbi.

Islam corak Amerika
AS merupakan sebuah negara sekuler yang memisahkan kekuasaan agama dan negara. Namun demikian pemerintah AS menunjukkan sikap bersahabat kepada agama (friendly religious) dengan memasukkan agama ke ranah private (pribadi). Oleh karena itu, di AS dilarang keras membicarakan agama dalam ranah publik, seperti politik, ekonomi, dan lain sebagainnya.

Untuk menjaga kebebasan beragama, pemerintah federal Amerika bahkan membentuk unit kerja khusus yang bernama Ambassador of Large for International Religious Freedom. Saking bersahabatnya dengan agama, AS mengakomodir agama apa saja yang dibawa oleh para imigran ke negeri ini, mulai dari Konghucu, Hindu, Budha, Baha’i, Animisme, Paganisme, dan tentu hal yang sama terjadi terhadap Islam.

Islam di AS memiliki karakteristik yang berbeda dengan Islam di belahan dunia yang lain. Setidaknya, ada tiga titik perbedaan Islam di AS dibandingkan dengan Islam di tempat yang lain, yaitu: Pertama, Islam di AS kebanyakan dibawa oleh imigran yang datang dari negeri-negeri Muslim seperti Timur-Tengah, anak benua India atau negeri Melayu;

Kedua, karena Islam datang ke AS dari segala penjuru dunia, maka Islam-Amerika bercorak trans-nasional. Jangan heran jika melihat ada masjid Islam Turki, seperti Diyanet Center of America atau IMAAM Center yang dikelola oleh komunitas muslim Indonesia yang ada di AS, dan; Ketiga, oleh karena Islam diindentikkan dengan agama pendatang, maka tidak ditemukan corak Islam pribumi (indigenous) di AS.

Ketiga hal tersebut membuat Islam di AS memiliki tingkat keragaman yang sangat tinggi, baik dari segi pengamalan praktis ajaran Islam sampai kepada tradisi keagamaan. Namun begitu, meskipun memiliki keragama yang sangat tinggi, tidak sampai menyebabkan meningginya eskalasi konflik keagamaan di dalam internal umat Islam yang disebabkan oleh perbedaan praktik keagamaan seperti qunut atau tidak qunut, zikir jahar (keras) atau sir (pelan), shalat Tarawih 8 atau 20 rakaat, maupun karena perbedaan tradisi keagamaan seperti merayakan maulid Nabi atau tidak, tahlilan itu bid’ah atau sunnah, dan seterusnya.

Untuk menjaga stabilitas ini, di AS sekarang telah dibentuk suatu organisasi yang bernama ICNA (Islamic Circle of North America) yang memiliki kepentingan untuk membina pengamalan agama umat Islam di AS. Untuk mencapai tujuan ini, ICNA sering sekali mengadakan dialog antara berbagai sekte dalam Islam. Dialog dilakukan bukan hanya ketika terjadi konflik, namun jauh hari sebelum terjadinya konflik. Sehingga jarang terdengar terjadinya konflik antara sesama umat Islam di Amerika.

Di lain pihak keragaman yang dimiliki Islam di AS ini terkadang membuat mereka yang sering disebut sebagai native (pribumi, bukan dalam arti sesungguhnya, hanya menunjuk kepada warga kulit putih Amerika) kesulitan dalam mengenali “Islam standar”. Apakah “Islam standar” adalah Islamnya Arab Saudi yang puritan atau Yaman yang bercorak sufisme, atau Islam Iran yang Syiah atau bahkan Islam Indonesia yang moderat?

Pertanyaan seperti itu sering membingungkan native. Untuk menjawab hal tersebut, di AS sekarang telah didirikan sebuah organisasi yang bernama ISNA (Islamic Society of North America). Kepentingan organisasi ini adalah menjelaskan tentang Islam kepada warga AS lainnya yang non-muslim, melalui interfaith dialogue (dialog lintas agama) yang aktif dilakukan.

Dialogis sebagai peradaban
Dari penjelasan di atas terlihat jelas pentingnya komunikasi dialogis untuk menjembatani dua kutub yang berbeda. Karena perbedaan tidak mungkin dipersamakan, tetapi ia hanya bisa dicarikan titik temu dan titik seteru. Dengan titik temu kitabersatu dan dengan titik seteru kitabertoleransi. Pendekatan dialogis mampu memerankan peran tersebut. Dalam Islam, komunikasi dialogis ini direpresentasikan melalui konsep musyawarah.

Lawan dari dialog adalah monolog. Dalam kehidupan monologis yang akan terjadi adalah kehidupan yang terpisah oleh sekat-sekat kepentingan (segmentary society). Segmentary Society ini kemudian menciptakan kehidupan sosial yang berjarak (social distance). Social distance inilah yang pada akhirnya menciptakan sikap saling tidak percaya antara kelompok yang berbeda-beda dalam masyarakat (distrust society). Jika sikap saling tak percaya muncul, sulit untuk menjembatani perbedaan dalam ruang dialogis.

Melalui interfaith dialogue, eksistensi Islam di Amerika dapat dipertahankan. Di internal umat Islam, kehadiran ICNA memainkan peran penting untuk menjaga ukhuwah Islamiyah (Islam brotherhood). Sedangkan ISNA punya peran besar untuk menjembatani perbedaan antara Islam dan non-Islam sehingga diharapkan dapat terwujud ukhuwah insaniyah (human brotherhood). Tidak jarang jika Islam-phobia, anti-Semetic, dan kesalahpahaman yang lain tentang Islam mampu diselesaikan dengan pendekatan-pendekatan dialogis yang lebih beradab dibandingkan pendekatan demonstratif yang terasa kurang beradab. Wallahu a’lam bil haqiqah wa shawab.

* Mizaj Iskandar, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (Ikat) Aceh. Email: mizaj.iskandar.usman@gmail.com

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Islam di AS, Dialogis bukan Demonstratif, http://aceh.tribunnews.com/2018/05/21/islam-di-as-dialogis-bukan-demonstratif.

Editor: bakri

Skip to toolbar