Artikel

Dr. Agustin Hanapi. Lc. MA: Membumikan Pesan Alqur’an

ALUMNI FSH|BULAN Ramadhan dikenal dengan Syahrul Quran yaitu bulan diturunkannya Alquran sebagai petunjuk bagi umat manusia agar selamat di dunia maupun di akhirat. Tidak ada satu bacaan pun seperti halnya Alquran yang dibaca oleh ratusan juta orang baik mereka yang mengerti artinya maupun yang tidak mengerti bahkan dihafal redaksinya, huruf demi huruf. Tiada satu bacaan pun seperti halnya Alquran yang diatur tata cara membacanya, mana yang harus dipanjangkan, dipendekkan, dipertebal, atau diperhalus ucapannya, di mana tempat yang terlarang, boleh, atau harus bermula dan berhenti, bahkan diatur lagu dan irama yang diperkenankan atau tidak, sampai kepada etika pembacanya. Tidak ada satu kitab pun di dunia ini yang setiap keluarga memilikinya, dibaca dan dipelajari qira‘at-nya serta diperlombakan cara melantunkannya bahkan dengan penuh rasa bangga dan semangat untuk mengkhatamkannya setiap saat, terlebih pada bulan Ramadan ini karena meyakini akan mendapat ganjaran yang berlipat. Tiada satu bacaan pun yang dihitung jumlahnya, bukan hanya bagian terbesarnya (surah-surahnya), melainkan sampai kepada ayat, kalimat, kata, dan hurufnya, dan kemudian ditemukan rahasia-rahasia yang sangat mengagumkan dari perimbangan jumlah bilangan kata-katanya. Keunikan Alquran Alquran pertama kali berinteraksi dengan masyarakat Arab yang memiliki keahlian di bidang bahasa dan sastra Arab yang sungguh mengagumkan dan mempesona. Di mana-mana mereka melakukan perlombaan dalam menyusun syair atau khutbah, petuah, dan nasehat. Syair-syair yang dinilai indah, digantung di Ka‘bah, sebagai penghormatan kepada penggubahnya sekaligus untuk dapat dinikmati oleh yang melihat atau pembacanya. Penyair mendapat kedudukan yang sangat istimewa dalam masyarakat Arab. Mereka dinilai sebagai pembela kaumnya. Dengan syair dan gubahan, mereka mengangkat reputasi suatu kaum atau seseorang dan juga sebaliknya dapat menjatuhkannya. Pada masa itu keahlian dan kemahiran bangsa Arab dalam menggubah syair sangat tinggi, namun Alquran hadir dengan gaya bahasa yang cukup indah, bahkan melebihi dan mengungguli para penyair ulung pada masa itu, maka tak heran tantangan pertama yang dikemukakan Alquran kepada siapa saja yang ragu di antara mereka adalah “menyusun kalimat-kalimat semacam Alquran (minimal dari segi keindahan dan ketelitiannya) “Katakan (sampaikanlah), “seandainya manusia dan jin berhimpun untuk menyusun semacam Alquran ini, mereka tidak akan mampu melakukannya, walaupun mereka saling membantu.” (QS. Al-Isra`: 18). Alquran merupakan kitab suci yang unik dan sungguh mengagumkan, meski berusia ribuan tahun, namun pengaplikasian ajarannya tetap relevan hingga saat ini. Selain itu Alquran menjadi unik karena kalimat dan redaksinya yang sungguh serasi, lugas dan tegas bahkan antara jumlah bilangan kata dan antonimnya memiliki keseimbangan. Misalnya, kematian dan kehidupan termaktub sebanyak 145x, begitu juga halnya manfaat dan kerusakan termaktub sebanyak 50x, panas dan dingin juga masing-masing sebanyak 4x. Kemudian kata yaum (hari) dalam bentuk tunggal berjumlah 365 kali, sesuai dengan jumlah hari dalam setahun, sedangkan kata hari yang menunjuk jamak jumlah keseluruhannya hanya 30, sejumlah hari dalam satu bulan. Di sisi lain kata yang berarti “bulan” hanya terdapat dua belas kali sesuai dengan jumlah bulan dalam satu tahun. Di samping itu, Alquran juga dapat mempengaruhi jiwa para pembacanya, sebagaimana dikisahkan bahwa Umar bin Khattab sebelum memeluk Islam keluar menemui adiknya, Fathimah, yang sedang bersama suaminya membaca lembaran ayat-ayat Alquran. Ditamparnya sang adik sehingga bercucuran darah dari wajahnya, kemudian dimintanya lembaran itu, dan dibacanya (surat Thaha ayat 1-6). Gemetar jiwa Umar membaca ayat-ayat itu, kemudian, dia bergegas bertemu Nabi saw, untuk percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukti lain, berdasarkan penelitian ilmiah yaitu alat-alat observasi elektronik yang dikomputerisasi telah digunakan untuk mengukur perubahan-perubahan fisiologis pada sejumlah sukarelawan sehat yang sedang mendengarkan dengan tekun ayat-ayat Alquran. Mereka terdiri dari sejumlah kaum muslim yang dapat berbahasa Arab dan yang tidak pandai, muslim dan bukan muslim. Dibacakan kepada mereka penggalan ayat-ayat Alquran (dalam bahasa Arab), kemudian terjemahannya bahasa Inggris. Percobaan ini membuktikan adanya pengaruh yang menenangkan hingga mencapai 97%. Pengaruh tersebut terlihat dalam bentuk perubahan-perubahan fisiologis yang tampak melalui berkurangnya ketegangan saraf. Bahkan cendikiawan Inggris, Marmaduke Pickthall dengan tulus mengatakan bahwa “Alquran mempunyai simfoni yang tidak ada taranya, di mana setiap nada-nadanya bisa menggerakkan manusia untuk menangis dan bersukacita”. Hal ini disebabkan oleh huruf dari kata-kata yang dipilih dapat melahirkan keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat-ayatnya. Alquran juga mampu memuaskan akal dan jiwa. Ketika Alquran berbicara atau menyampaikan tentang hukum misalnya, redaksi yang digunakan tidaklah “kaku”. Namun Alquran menyampaikannya melalui redaksi yang beraneka ragam dan gaya. Sekali dengan perintah tegas, dan pada kali lain dengan mengajak atau menjanjikan pelakunya ganjaran yang besar atas amalan yang dilakukannya. Misalnya mengenai kewajiban puasa (QS. al-Baqarah: 183-184). Ayat tersebut tidak menyatakan “Tuhan mewajibkan kepada kamu”, tetapi “diwajibkan kepada kamu”. Ini mengisyaratkan bahwa manusia sendirilah yang mewajibkan puasa atas dirinya, karena dia menyadari betapa penting dan bermanfaatnya puasa. Ketika seseorang mengetahui manfaat puasa bagi kesehatan dirinya, maka dengan sendirinya dan tanpa paksaan ia akan tergerak untuk berpuasa, bahkan jika seandainya puasa itu tidak diwajibkan oleh Allah swt. Mengungkap hal gaib Keunikan lain, Alquran mengungkap sekian banyak ragam hal gaib atau kejadian masa lampau yang tidak diketahui oleh manusia, karena masanya telah demikian lama, misalnya peristiwa tenggelamnya Firaun dan diselamatkannya badannya. Orang mengetahui bahwa Firaun tenggelam di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa as dan kaumnya, tetapi menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya merupakan satu hal yang tidak diketahui siapa pun pada masa Nabi Muhammad saw, bahwa tidak disinggung oleh perjanjian lama dan baru. Namun pada 1896, purbakalawan Loret, menemukan jenazah tokoh tersebut dalam bentuk mumi di Luxor seberang sungai Nil, Mesir. Kemudian pada 8 Juli 1907, Elliot Smith membuka pembalut-pembalut mumi itu dan ternyata badan Fir’aun tersebut masih dalam keadaan utuh. Pada Juni 1975, ahli bedah Prancis, Maurice Bucaille yang pada awalnya tidak percaya jika mumi adalah Firaun yang mengejar Musa sebagaimana termaktub dalam Alquran yang berusia 1.400 tahun lalu dan akhirnya memeluk Islam setelah melakukan kajian ayat tentang Firaun. Firaun meninggal di laut, terbukti dari bekas-bekas garam yang memenuhi sekujur tubuhnya. Keunikan dan mukjizat Alquran tidak pernah habis untuk dibahas, semakin dikaji maka semakin terkuak rahasia yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, bagi kita selayaknya tidak cukup hanya sekadar mengagumi kemukjizatan Alquran dan merasa bangga akan kehadirannya saja, sehingga terlena tanpa berhasrat untuk mentadabburinya lebih dalam. Oleh karena itu, mari terus mempelajarinya dengan benar semenjak dini, dimulai dari makhraz, tajwid, melafalkannya, dan lain-lain. Kemudian menghafalkan serta melantunkannya pada setiap salat, tetapi hal yang terpenting adalah pen-tadabbur-an dan pengamalan terhadap apa yang disampaikan oleh Alquran dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Dr. H. Agustin Hanafi, MA., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh. Email: agustinhanafi77@yahoo.com Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Membumikan Pesan Alquran, http://aceh.tribunnews.com/2018/06/02/membumikan-pesan-alquran?page=2.

Skip to toolbar