Artikel » BERITA

JERITAN AL-AQSA OLEH DR. AGUSTIN HANAFI. LC. MA

ALUMNI FSH| DUNIA internasional dikejutkan oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Trump berdalih, aksi ini merupakan satu pemenuhan janji kampanyenya kepada para pemilihnya. Trump meyakini pengakuan ini sebagai sebuah fakta penting untuk mencapai perdamaian antara Israel dan Palestina yang selama ini berkonflik. Dengan demikian, pemerintah AS juga memulai memproses perpindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Dalam Alquran surat al-Maidah 21-26, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk masuk ke Palestina, tapi mereka enggan mengikuti perintah-Nya meski dijamin kemenangan oleh Allah Swt, bahkan mereka berani berkata-kata buruk kepada Nabi Musa as. Oleh sebab itu, Allah mengharamkan bumi Palestinabagi mereka selama 40 tahun, sehingga mereka terlunta-lunta di padang Tiih. Musa as berkata, “Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang rugi.”

Namun mereka berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk”. “Mereka berkata, wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama masih ada mereka di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah engkau berdua dan kami tetap menanti di sini saja”. Allah berfirman, “jika demikian, maka negeri itu terlarang bagi mereka selama 40 tahun, selama itu mereka akan mengembara kebingungan di bumi, maka janganlah engkau Musa bersedih hati memikirkan nasib orang-orang fasik itu”.

Ayat tersebut dikuatkan dengan fakta sejarah, hampir 200 tahun bangsa Yahudi luntang-lantung di kawasan tidak bertuan (padang Tiih dan sekitarnya), sampai Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as mendirikan kerajaan di Palestina pada 1040-970 SM. Pada 66-70 M terjadi pemberontakan oleh bangsa Yahudi terhadap penguasa Romawi, namun mengalami kegagalan. Puluhan ribu orang Yahudi dibantai secara sadis, sehingga mereka mengungsi menyelamatkan diri. Demikianlah seterusnya sampai kedatangan Islam pertama kali yang dipimpin oleh Umar bin Khattab ra pada 637 M, dan mewakafkan Yerusalem, tanah Palestina kepada umat Islam di seluruh dunia.

Kota suci agama samawi
Yerusalem tanah subur, sarat dengan nilai sejarah merupakan simbol tiga agama besar (Yahudi, Nasrani, Islam) yang letaknya saling berdekatan. Menurut kisah dalam Alkitab, Raja Daud merebut kota Yerusalem dari suku Yebus dan mendirikan sebuah kerajaan sebagai ibu kota Israel. Putra raja Daud, yakni raja Salomo, memerintahkan pembangunan “Bait Pertama”, yang merupakan julukan kota suci yang disematkan bagi Yerusalem. Sisa dari dinding tempat berdirinya Bait Suci zaman dulu inilah yang kemudian dikenal sebagai Kotel atau Dinding Ratapan (Dome of the Rock). Di dalam tempat suci tersebut terdapat Ruang Maha Kudus, situs paling suci dalam agama Yahudi. Umat Yahudi percaya bahwa inilah tempat batu fondasi penciptaan dunia, dan tempat Abraham atau Nabi Ibrahim siap mengorbankan anaknya Ishak, atau Ismail.

Kesucian Yerusalem bagi agama Nasrani karena di kawasan ini terdapat gereja Makam Kudus, sebuah tempat ziarah penting bagi para penganut Nasrani di seluruh dunia. Dalam kisah Yesus dikatakan tempat itu terletak di sebuah lokasi yang sangat penting, di mana Yesus mengalami kematian, lalu disalib, dan mengalami kebangkitan.

Dalam pandangan Islam, Yerusalem adalah kota suci ketiga setelah Mekkah dan Madinah. Yerusalem juga menjadi kiblat pertama umat Islam. Di sana terdapat Masjid al-Aqsa, tempat perjalanan Israk Mikraj Nabi Muhammad saw. Beberapa langkah dari masjid, terdapat Kubah As-Shakrah (Dome of the Rock) yang berisi batu fondasi yang diyakini umat Islam sebagai tempat bertolak Muhammad menuju ke Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra Mikraj itu.

Sejarah penindasan yang dialami Yahudi-Israel membuat mereka menginginkan sebuah negara atau yang disebut “Tanah Terjanji” untuk menjadi tempat tinggal mereka. Konflik Israel-Palestina seringkali digambarkan sebagai konflik Yahudi-Islam dan bahkan satu kota suci Yerussalem pun diklaim oleh Yahudi sebagai wilayah yang dijanjikan Tuhan pada mereka yang selama ini tertindas.

Ada beberapa faktor yang menguatkan Israel mengklaim wilayah yang semula wilayah Palestina, yaitu sebagai berikut. Kitab Perjanjian Lama Bab Genesis 15:18 yang menyebutkan, Pada hari ini Tuhan membuat perjanjian dengan Ibrahim melalui firman, “Untuk keturunanmu Aku berikan tanah ini, dari Sungai Mesir hingga Sungai Besar Eufrat”.

Kemudian, deklarasi Balfour pada November 1917 M oleh Arthur James Balfour yang sebelumnya atas kesepakatan Sykes Picot dan pembagian daerah kekuasaan di Timur Tengah dengan Prancis. Dalam deklarasi tersebut dikatakan, “Pemerintah Inggris menyetujui didirikannya sebuah tanah air bagi bangsa Yahudi di Palestina, dan berusaha dengan sebaik-baiknya untuk melancarkan pencapaian tujuan ini”.

Perang Arab-Israel
Sejak pendirian negara Israel, beberapa kali perang pecah antara Arab-Israel, karena Israel mencaplok wilayah suci umat Islam tersebut. Namun selalu saja Israel yang diuntungkan karena besarnya sokongan dari negara adidaya AS yang sering memveto resolusi PBB untuk kepentingan Israel sehingga perjuangan rakyat Palestina dan umat Islam untuk mendirikan negara Palestina berdaulat dengan ibu kotanya Yerusalem sulit terwujud.

Selama perang Arab-Israel pada 1948, Yerusalem Barat termasuk satu daerah yang direbut dan kemudian dianeksasi oleh Israel. Sedangkan Yerusalem Timur, termasuk Kota Lama, direbut dan kemudian dianeksasi oleh Yordania. Israel merebut Yerusalem Timur dari Yordania dalam Perang Enam Hari pada 1967 dan setelah itu menganeksasinya ke dalam Yerusalem bersama dengan tambahan wilayah di sekitarnya.

Satu hukum dasar Israel, yaitu Hukum Yerusalem 1980, menyebut Yerusalem sebagai ibu kota yang tak terbagi dari negara tesebut. Hal ini bertentangan dengan Resolusi Majelis Umum PBB No.181 Tahun 1947, yang membagi Palestinamenjadi tiga wilayah, yaitu wilayah Palestina, wilayah Israel, dan Yerussalem sebagai zona internasional. Oleh sebab itu, hingga kini masyarakat internasional tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan tidak ada kedutaan asing yang didirikan di kota ini.

Pernyataan sepihak Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel telah melanggar hukum Internasional dan melukai perasaan umat Islam. Kota tersebut merupakan tanah suci umat Islam dan milik sah rakyat Palestina. Kemudian, pernyataan Trump dapat menyuburkan ekstremisme, radikalisme, dan memicu perlawanan anti Yahudi dan Amerika di seluruh dunia, sehingga membuat stabilitas dunia menjadi terancam berdarah-darah.

Suatu hal yang harus disadari bahwa Yerusalem bukan hanya milik rakyat Palestina dan Arab, tetapi milik umat Islam seluruh dunia, maka semua pihak bertanggung jawab mengembalikan tanah Yerusalem ke pangkuan umat Islam. Fakta di lapangan membuat hati miris, setiap hari terjadi pertumpahan darah, dan selalu yang menjadi korban dari pihak Palestina. Bahkan, rakyat Palestina tidak pernah diberikan kebebasan dan keleluasaan untuk beribadah di Masjidil Aqsa, Yerusalem. Wallahu a‘lam.

* Dr. H. Agustin Hanafi, MA., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, dan anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh. Email: agustinhanafi77@yahoo.com

http://aceh.tribunnews.com/2017/12/15/jeritan-al-aqsa

Skip to toolbar